Gelar Dialog Publik, PKC PMII Bali Nusra Minta Resnarkoba Sebagai Tempat Rehabilitasi

Aziz Muslim, Ketua Umum PKC PMII Bali-Nusra Saat sambutan di acara Dialog Publik

Mataram, BeritaQ.com – Terkait dengan marakanya pengedar dan pemakai Narkoba secara gelap gelapan khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan bukan hal baru tentu narkoba merupakan penyakit yang sudah menjalar di masyarakat kususnya kaum muda milenal.

Melihatfenomena tersebut Direktur Resnarkoba Polda NTB selalu mencari solusi dan memerangi Narkoba. Pasalnya, Rehabilitasi pasca pemutusan di pengadilan menunggu waktu 12 (Dua Belas) bulan untuk membutuhkan putusan rehabilitasi atau dipidana.

Menanggapi hal tersebut Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Bali Nusa Tenggara (PKC PMII Bali-Nusra) menggelar Dialog Publik dengan tema “Berantas Penyebaran Narkoba di NTB” .

Kegiatan tersebut bertempat di Nice Cofee Jln.Lingkar Selatan Jempong, hadir sejumlah kader PMII beserta OKP Cipayung lainnya.

Turut hadir sebagai narasumber Kombes Pol. Helmi Kwarta Kusuma, R. S.I.K, M.H, Direktur Resnarkoba Polda NTB, Drs.Gde Sugianyar D.P, SH, M,Si, Kepala BNN Provinsi NTB dan Idhar Hakim, SH, MH, Kepala Ombudsman NTB. Sabtu, (8/8/20).

Aziz Muslim selaku Ketua Umum PKC PMII Bali-Nusra dalam sambutannya mengatakan Penahanan disaat menuju persidangan di Tahti atau LP sesuai rekomendasi BNN menjadi peluang ada bandar baru.

” jika ditahan di Tahti atau LP, Pemakai bisa jadi bandar karena ada interaksi dengan bandar di ruangan yang sama,” Ungkapnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Bagonk itu mengatakan bahwa rekomendasi tempat untuk rehabilitasi paling pas adalah di Resnarkoba karena bisa diawasi langsung oleh polisi.

“Tempat paling pas adalah Resnarkoba, kira bisa memutus komunikasi dan interaksi,”tambahnya.

Sementara itu Kombes Pol. Helmi Kwarta Kusuma, R. S.I.K, M.H, Dirresnarkoba Polda NTB mengatakan Pemberantasan Narkoba ini banyak modelnya salah satunya adalah penangkapan, namun memang yang ditangkap adalah orang yang memang sudah siap ditangkap. Sehingga yang terjadi kuantitas penangkapan meningkat tapi kualitasnya menurun.

“Sebagai bentuk keseriusan saya menangani NARKOBA di NTB saya siap mempertaruhkan jabatan saya dan siap berhadapan dengan siapapun, bukan hanya itu kita juga akan menggunakan ahli-ahli IT yang kita harapkan mampu meretas penggunaan teknologi dalam memuluskan peredaran Narkoba,”tegasnya.

​”Selama dua bulan lebih kami menyita kurang lebih 7 kg sabu itu artinya kita sudah menyelamatkan 70.000 masyarakat NTB untuk itu mari kita sama-sama perangi Narkoba.”lanjutnya.

Lebih lanjut Kepala BNN NTB, Drs.Gde Sugianyar mengatakan bahwa yang menjadi dasar melakukan pemberantasan Narkoba adalah angka keterpaparan. Pertama angka keterpaparan pengguna yang hanya sekedar pakai, dan kedua, keterpaparan setahun pakai.

“​Kalau dilihat dari statistic angka terpapar narkoba memang tidak terlalu tinggi, tetapi tetap kita waspada karena peredarannya masih tetap berlanjut dan sulit di hentikan,” terangnya.

Alasan pemakaian narkoba yang paling tinggi adalah rasa ingin mencoba, padahal sangat berbahaya yang bisa berdampak langsung terhadap tubuh baik secara fisik dan psikis.

“Untuk itu kita harus bersama mencari inovasi pencegahan narkoba yang massif sebagai upaya kita meminimalisir angka penyalahgunaan narkoba di NTB,” cetusnya.

Ditempat yang sama Adhar Hakim, Kepala Ombudsman NTB menyatakan diskusi ini adalah hal strategis dalam rangka membantu pemerintah untuk mensyi’arkan darurat narkoba.

“Sekarang kita harus dorong peran-peran aparat penegak untuk melakukan pencegahan karena penindakan itu khusus untuk narkoba, aparat kepolisian harus mendorong inovasi penanganan atau pencegahan dan penegakan yang tidak bisa terlalu lunak tehadap narkoba.”tuturnya.

Posisi Ombudsmen adalah melakukan pengawalah terhadap standar-standar SOP dan tidak menyimpang sesuai dengan garis besar.

“Saya pribadi sangat kagum ada pak Dirresnarkoba yang beberapa bulan terakhir sangat agresif memerangi narkoba,” tutupnya. (Wldn).

Pos terkait